Thursday, 11 December 2014

Terimakasih

Terimakasih untuk kemarahan
terimakasih untuk kekecewaan yang sering terlantun ringan
terimakasih untuk pertengkaran yang kerap muncul saat kita benar-benar dirasuki egois yang klimaks.
dan untuk saling tak bersuara ketika seharusnya kita harus selesaikan masalah di hari itu juga
dan untuk kamu yang ketiduran sementara aku dengan bersemangat menuggui andai saja ada getar dan tanda-tanda kehidupan di ponselku.
dan terimakasih untuk tangis yang tak terdefenisikan, untuk rindu yang tak berselang waktu.dan terimakasih untuk jarak dan penantian yang tak tahu akan berhenti sampai kapan.
Dan diantara itu...
aku
merindui saat kemarahan, tetapi kita masih tetap tak saling memaki dan aku tahu karena kita memang tak mau merusak hubungan yang sudah ada.
menelaah kekecewaan bahwa ternyata kita saling menginginkan perubahan yang lebih baik lagi untuk tetap berada diperjalanan ini
untuk pertengkaran yang tidak mengerti untuk apa, tapi kita tetap dan masih berdebat untuk sesuatu yang sebenarnya bukan lah sesuatu yang harus di kupas tuntas dan itu mengajariku untuk tak selalu menggunakan jurus egois itu. dan ketika menagisimu dengan alasan yang aku sendiri justru tidak tahu untuk apa.yang penting menangis saja. Dan ketika ditanyai oleh mu aku hanya bungkam dan diam yang tertata rapi. ingin  bercengkrama dan bersahabat dengan jarak andai saja di dekatkan walau hanya satu menit, rasa nya akan lebih baik.
Terimakasih untuk semua kisah yang masih panjang...
cinta memang tak mengerti aturan, keegoisan dan jarak.
 Cinta  adalah ketika saat tersulit sekalipun kita masih saja ingin tetap menjalani kisah yang sama dengan orang yang sama.tak peduli apakah besok, lusa , dan nanti kita akan berantem dan salah paham lagi. kecewa, ata bahkan menangis lagi. Kita hanya ingin tetap berada di perjalanan yang sama...

No comments:

Post a Comment